Semester I Tahun 2010, Bank DKI Raih Laba Rp. 166 M
Jakarta – Kinerja keuangan Bank DKI semester I Tahun 2010 menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya (YoY). Sampai dengan Juni 2010, laba sebelum pajak yang diraih sebesar Rp 166 miliar, meningkat 5,73 % dibandingkan periode Juni 2009 sebesar Rp 157 milyar. Demikian disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Utama yang juga sebagai Direktur Pemasaran Bank DKI, Mulyatno Wibowo kemarin (29/7).
Dijelaskannya, secara keseluruhan, aset Bank DKI meningkat dari Rp 14,42 trilyun pada Juni 2009 menjadi Rp. 16,2 trilyun pada Juni 2010 ini atau tumbuh 14,19%. Sedangkan dari sisi pertumbuhan kredit, juga mengalami peningkatan. Sampai dengan Juni 2010 pemberian kredit Bank DKI mencapai Rp 7,3 trilyun, tumbuh 8,47 % dibanding periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp 6,7 trilyun. Meski pertumbuhan kredit meningkat, namun LDR mengalami penurunan dari 57,31 % menjadi 52,21 %. ”Ini dikarenakan pertumbuhan DPK Bank DKI yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit. Di bidang perkreditan, kami sedang melakukan penyempurnaan-penyempurnaan di segala lini baik dari sisi kebijakan, Standard Operating Procedure (SOP), SDM hingga melakukan re-target market kepada debitur yang lebih sehat untuk menunjang pertumbuhan berkualitas,” terang Mulyatno. Dijelaskannya, pertumbuhan DPK (Dana Pihak ketiga) Bank DKI mengalami peningkatan sebesar 19,16 % dari tahun sebelumnya sebesar Rp 11,7 trilyun menjadi Rp 13,9 trilyun. Pertumbuhan terbesar berasal dari peningkatan giro yang tumbuh sebesar 48,33 %, dari Rp 4,2 trilyun di tahun 2009 menjadi Rp 6,2 trilyun di Juni 2010. Untuk tabungan, naik dari Rp. 1,8 trilyun pada Juni 2009 menjadi Rp. 2,1 trilyun pada Juni 2010 atau tumbuh 15,43 %. Sedangkan untuk simpanan berjangka mengalami penurunan sebesar 1,42 % dari Rp 5,6 trilyun menjadi Rp 5,5 trilyun. ”Komposisi DPK Bank DKI akan terus diseimbangkan dengan memperbesar dana murah yang berasal dari giro dan tabungan,” jelas Mulyatno.
Dari sisi pengelolaan kredit bermasalah, Bank DKI dengan berbagai program restrukturisasi juga berhasil menurunkan NPL gross dari 5,75 % di Juni 2009 menjadi 4,05 % pada Juni 2010. Sedangkan NPL Net dari 2,63% dapat ditekan menjadi 1,48 % pada Juni 2010. Penurunan NPL ini akan terus menjadi perhatian utama manajemen saat ini yang akan dilakukan dengan peningkatan upaya penagihan kredit bermasalah dan penyelesaian kredit bermasalah dengan melelang agunan maupun dengan ekspansi kredit.
Mulyatno menjelaskan, komposisi Direksi Bank DKI saat ini sebagaimana RUPS Luar Biasa Tanggal 22 Juli 2010 yang dituangkan dalam Berita Acara Rapat No 56 yang dibuat oleh Notaris Ny Poerbaningsih Adi Warsito, SH, untuk sementara terdiri dari 3 orang yaitu Mulyatno Wibowo sebagai Direktur Pemasaran yang juga bertindak sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama (sementara), Benny Santoso sebagai Direktur Keuangan yang bertindak sebagai Pelaksana Tugas Direktur Kepatuhan (sementara), dan Ilhamsyah Joenoes sebagai Direktur Operasional (sementara).
Meski demikian, komitmen Direksi saat ini untuk melaksanakan amanat pemegang saham untuk meningkatkan kinerja Bank DKI akan menjadi fokus utamanya. Diantaranya adalah melanjutkan program Wildly Important Goals yaitu peningkatan pelayanan (Bank DKI menjadi BPD Terbaik dalam Service Excellent Award yang diselenggarakan MRI dan Infobank selama 2 tahun berturut-turut), menurunkan NPL, dan mengendalikan BOPO.
Selain itu, dijelaskan bahwa sebagai bagian dari Rencana Kerja tahun 2010 untuk menjaga keseimbangan struktur pendanaan Bank DKI akan menerbitkan obligasi VI (senior) senilai Rp 750 milyar yang saat ini sedang dalam proses penyelesaian perijinan. “Mudah-mudahan dapat sesuai jadwal yang ditetapkan bersama underwriter yakni Mandiri Sekuritas,” kata Mulyatno.
“Hasil penerbitan obligasi ini akan kami pergunakan untuk ekspansi kredit dengan tenor yang relatif panjang seperti misalnya untuk pembiayaan infrastruktur, dan project financing lain di industri pilihan, dengan tetap mengalokasikan sebagian pada KPR dan UMKM,” imbuhnya. Kendati demikian, Bank DKI tetap mengambil kebijakan selektif dalam mengucurkan kredit untuk menjaga posisi CAR. Kami menyeleksi dengan lebih teliti prospek debitur ataupun calon debitur yang ingin menambah fasilitas kredit maupun mendapatkan fasilitas kredit baru. Pertumbuhan kredit tetap dijaga untuk mengejar target pertumbuhan kredit yang lebih tinggi di semester kedua ini”, demikian jelasnya. Namun demikian kucuran kredit juga diprioritaskan untuk segmen yang memiliki bobot risiko relatif kecil, seperti para kontraktor rekanan Pemda dan segmen UMKM yang lebih kebal krisis, sebagaimana arahan dan harapan pemegang saham.
Guna menunjang hal tersebut, Mulyatno menjelaskan, manajemen akan memperbaiki manajemen risiko secara komprehensif khususnya risiko kredit, risiko operasional, dan risiko strategis antara lain meliputi peningkatan kesadaran dan budaya risiko, serta perbaikan SOP yang mengarahkan pada proses pengambilan keputusan kredit yang sehat. “Untuk mencapai maksud tersebut, kami akan menyesuaikan struktur organisasi yang ada menjadi berorientasi pada manajemen risiko sehingga benar-benar menjamin adanya penerapan four eye principle dalam pengambilan keputusan kredit”. Pada saat bersamaan, manajemen juga akan focus untuk memperbaiki struktur pendanaan dan pengefisienan biaya melalui streamlining process dan menghilangkan un-necessary cost sehingga perusahaan menjadi lebih kompetitif terhadap pesaing.
Dengan struktur organisasi yang tersistem dengan baik, dan proses yang lebih singkat diharapkan akan dapat meningkatkan kinerja perkreditan sehingga LDR Bank DKI ke depan diharapkan dapat diatas 75 % sebagaimana arahan Bank Indonesia.
Adapun untuk pengembangan jaringan distribusi, jumlah kantor Bank DKI kini sebanyak 161 kantor layanan dengan Jaringan ATM sebanyak 377 anjungan. ATM Bank DKI juga tergabung dalam jaringan ATM Bersama sehingga setiap pemegang ATM Bank DKI dapat melakukan transaksi diseluruh ATM berlogo ATM Bersama. Untuk memberikan kenyamanan bagi nasabahnya, ATM Bank DKI telah dapat difungsikan sebagai “Debit Card” sehingga dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan pembayaran seperti pembayaran kartu pra bayar dan pasca bayar telekomunikasi, rekening telepon rumah, rekening listrik, pembayaran zakat, pembayaran STNK di Samsat. Kartu ATM Bank DKI juga dapat dimanfaatkan sebagai debet tunai untuk pembayaran Taksi Tiara Ekspress dan belanja di Indomaret. Bank DKI juga memiliki jaringan kerjasama pengiriman uang melalui Western Union dan BPD Net Online. Bank DKI juga memiliki smart card yang lebih dikenal sebagai “JakCard Bank DKI”, yang dapat dipergunakan untuk pembayaran tiket busway koridor 1,2,3 dan 6. Kedepannya jumlah koridor yang dapat dilayani akan lebih diperluas lagi.
Selain itu sebagai upaya optimalisasi peran Bank DKI dalam mendukung program Pemprov DKI Jakarta, khususnya dalam peningkatan layanan yang terkait dengan pajak-pajak daerah, Bank DKI telah membuka gerai pajak di beberapa Mal di Jakarta dan pelayanan Samsat Drive Thru di beberapa layanan samsat seperti Samsat Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. “Saat ini, sedang dipersiapkan kehadiran Bank DKI di 36 kecamatan dan seluruh kelurahan di Jakarta, sehingga Bank DKI akan semakin lebih dekat dengan Pemprov DKI Jakarta maupun dekat dengan warga Jakarta,” ujar Mulyatno. Untuk mendukung pembangunan Jakarta, Bank DKI terus berupaya meningkatkan pemberian kredit komersial, khususnya kepada para pengusaha dan kontraktor yang sedang mengerjakan proyek-proyek Pemprov DKI Jakarta. Untuk pengembangan sektor usaha kecil, mikro dan menengah, Bank DKI terus mengucurkan KUMK Monas. Dan sebagai salah satu BPD yang ditunjuk oleh Kementerian Koperasi dan UKM, Bank DKI juga giat menyalurkan Kredit Usaha Rakyat.
Dirinya optimis Bank DKI mampu menghadapi persaingan di dunia perbankan yang semakin kompetitif pada tahun 2010 dan mendatang. Optimisime tersebut didasari atas performance Bank DKI yang terus meningkat sehingga rating PT. Bank DKI untuk periode 30 Desember 2009 sampai dengan 1 Januari 2011 membaik dari idA- menjadi idA dengan outlook stabil sehingga kepercayaan pasar diharapkan akan semakin besar. Hal tersebut juga ditunjang dengan keberhasilan Bank DKI meraih penghargaan sebagai “Perusahaan Terpercaya” oleh Indonesian Institute Corporate Governance (IICG) pada tanggal 23 Desember 2009.









